Pemerintah
Kabupaten Magelang terus mempertajam komitmen dalam menyiapkan dan menyajikan
data yang akurat, valid, dan tepat sasaran. Hal ini diwujudkan salah satunya
melalui kegiatan Verifikasi Data Kemiskinan Kabupaten Magelang 2025.
Menariknya, ASN dilibatkan sebagai petugas yang terjun langsung ke rumah
penduduk untuk melakukan verifikasi data. Masing-masing ASN Kabupaten Magelang
akan mendapat tugas verifikasi data keluarga miskin sesuai domisilinya,
sebanyak 10 hingga 12 kepala keluarga.
Kegiatan ini
bertujuan memperbarui dan melengkapi data sosial ekonomi rumah tangga miskin
dan kelompok rentan. Selain itu menyediakan informasi yang akurat dan terkini
tentang kondisi masyarakat.
"Tentu
saja hasilnya nanti juga akan menjadi dasar perencanaan kebijakan pembangunan
yang tepat sasaran," ujar Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Magelang, Budi
Daryanto saat membuka kegiatan Pelatihan Instruktur Verifikasi Data Kemiskinan
di ruang Smart Room, Kamis (24/7).
Budi
mengungkapkan angka kemiskinan di Kabupaten Magelang menurun lambat. Pada 2023
ada di angka 10,96 persen, sedangkan pada 2024 ada di 10,83 persen.
"Permasalahan
utamanya adalah pemanfaatan data kemiskinan mikro yang belum optimal,"
jelasnya.
Permasalahan
data yang dialami, lanjut Budi, diantaranya masyarakat miskin belum seluruhnya
terdata, penerima bantuan tidak lagi memenuhi kriteria, dan program tidak
sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
"Sehingga
Pemerintah Kabupaten Magelang segera melakukan inisiatif pembaruan data
kemiskinan, dan melibatkan ASN sebagai petugas verifikasi," tandasnya.
Kepala BPS
Kabupaten Magelang, Kus Haryono mengapresiasi inisiasi Pemkab Magelang yang
melibatkan ASN dalam proses verifikasi data di lapangan. Ia mengungkapkan, hal
ini adalah pertama kalinya di Indonesia.
"Infonya
ini sudah sampai ke pusat, dan BPS sangat mengapresiasi inisiatif Pemkab
Magelang. Ini yang pertama," ungkap Kus Haryono.
Ia berpesan
agar para ASN menjadikan ini pengalaman yang berharga, betapa mengumpulkan data
melalui berbagai proses yang tidak sederhana, prosesnya panjang, pertanyaannya
harus detail.
"Kemudian
nanti akan ada evaluasi, misal tiga terbawah (verifikasi data) akan didampingi
pada saat ke lapangan," lanjutnya.
Untuk
menjaga kualitas data, ada proses-proses yang dilakukan untuk mengawal agar
data itu mengandung eror seminimal mungkin. Kus Haryono menyebutkan di dalam
statistik ada sampling error, dan non sampling error.
"Sampling
error dari metodologi yang kita lakukan, bisa jadi ada hal-hal yang belum
tercakup dalam metodologi di dalam validasi, pengolahannya, aplikasinya.
Non sampling
error itu, kita pada saat bertanya bisa jadi kita nanyanya nggak pas, bisa jadi
responden waktu ditanya juga jawabnya nggak pas. Kita kan nggak tahu dia
jawabnya jujur apa ngga, kecuali kita pas pendataan bawa lie detector,"
selorohnya.
Ia berpesan
agar para ASN bisa memastikan kualitas data terjamin kevalidannya, sehingga
data itu benar-benar bisa digunakan pemerintah untuk melakukan evaluasi dan
perencanaan pembangunan di Kabupaten Magelang.
Pada
pelatihan tersebut, para ASN mendapatkan pengarahan teknis terkait pengumpulan
dan verifikasi data di lapangan dari narasumber Statistisi Ahli Muda pda BPS
Kabupaten Magelang, Diana Larasati, dan Statistisi Ahli Muda pada Dinas Kominfo
Kabupaten Magelang, Agustina Purwanti. Para ASN yang telah mengikuti pelatihan
bertugas melatih rekan-rekan di instansinya agar memahami alur verifikasi data
di lapangan.
Pelatihan Verifikasi Data Kemiskinan di Kabupaten Magelang digelar selama tiga hari pada 24, 25, dan 28 Juli 2025 di kantor Dinas Kominfo, Disdikbud, dan Dispermades Kabupaten Magelang.